Di zaman Yunani dan Mesir kuno, madu sering digunakan untuk
mengawetkan daging sedemikian rupa sehingga hasilnya masih tetap segar setelah
beberapa minggu disimpan.
Cara mengawetkan daging dengan madu telah dilakukan pula oleh penduduk
asli Srilangka yaitu dengan cara : potongan-potongan daging dicelupkan ke dalam
madu, disimpan di lubang kayu (pohon), beberapa puluh cm di atas tanah. Lubang
tersebut kemudian diisi dengan ranting-ranting hingga penuh dan dibiarkan untuk
beberapa lama, kadang-kadang sampai satu tahun, daging masih dalam keadaan
yang baik dengan citarasa yang lebih baik pula.
Dari hasil penelitian wooton dan kawan-kawan (1978), telah dibuktikan bahwa
daya anti bakteri madu tidak ada sangkut pautnya dengan kadar gula dan kadar air,
tetapi oleh adanya suatu senyawa sejenis lysozyme dan memiliki daya anti bakteri.
Senyawa tersebut kini lebih dikenal sebagai inhibine.
Berbagai mikroba ternyata sangat peka terhadap inhibine bakteri garam
negatif lebih peka dari bakteri garam positif. Kadar (bilangan) inhibine dalam madu
sangat tergantung pada jenis, umur dan kondisi madu. Dari berbagai khasiat yang
dimiliki, madu masih banyak lagi yang belum terungkapkan secara ilmiah.
Kekuatan atau daya inhibine dalam madu secara kuantitatif dinyatakan
dengan satuan “bilangan inhibine”, biasanya bilangan inhibine dapat berkisar dari
angka 5 sampai 0, yang dites terhadap mikroba Staphylococcus aureus. Bilangan
inhibine 5 berarti madu dalam keadaan encer (4% madu dalam agar padat) telah
cukup mikroba S. aureus yang terdapat pada plat agar tersebut. Bilangan inhibine 1
artinya madu dalam keadaan lebih pekat (20% madu dalam agar padat) baru dapa
memusnahkan atu mencegah pertumbuhan test mikroba S. aureus.
Jadi semakin tinggi bilangan inhibine semakin kuat daya antibiotiknya. Jumlah
bilangan inhibine dalam madu sangat tergantung jenis, umur dan kondisi madu
tersebut. Inhibine ternyata sangat sensitif terhadap panas pada suhu 60%, keaktifan
inhibine dalam madu hilang hanya dalam waktu 15 menit.
Makanya logis jika ada banyak orang yang menggunakan strategi merendam daging pada madu untuk menguji kualitas/keaslian madu. Madu asli dapat memberikan pengaruh pada keawetan dagin sedangkan madu tidak asli tidak dapat mencegah proses pembusukan yang terjadi pada daging.
sumber: http://tekpan.unimus.ac.id/

0 komentar:
Posting Komentar