Sabtu, 12 Maret 2016

Madu: Bahan Antibakteri (Jr.Madu Info)

Di zaman Yunani dan Mesir kuno, madu sering digunakan untuk mengawetkan daging sedemikian rupa sehingga hasilnya masih tetap segar setelah beberapa minggu disimpan. Cara mengawetkan daging dengan madu telah dilakukan pula oleh penduduk asli Srilangka yaitu dengan cara : potongan-potongan daging dicelupkan ke dalam madu, disimpan di lubang kayu (pohon), beberapa puluh cm di atas tanah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan ranting-ranting hingga penuh dan dibiarkan untuk beberapa lama, kadang-kadang sampai satu tahun, daging masih dalam keadaan yang baik dengan citarasa yang lebih baik pula. Dari hasil penelitian wooton dan kawan-kawan (1978), telah dibuktikan bahwa daya anti bakteri madu tidak ada sangkut pautnya dengan kadar gula dan kadar air, tetapi oleh adanya suatu senyawa sejenis lysozyme dan memiliki daya anti bakteri. Senyawa tersebut kini lebih dikenal sebagai inhibine. Berbagai mikroba ternyata sangat peka terhadap inhibine bakteri garam negatif lebih peka dari bakteri garam positif. Kadar (bilangan) inhibine dalam madu sangat tergantung pada jenis, umur dan kondisi madu. Dari berbagai khasiat yang dimiliki, madu masih banyak lagi yang belum terungkapkan secara ilmiah.
Kekuatan atau daya inhibine dalam madu secara kuantitatif dinyatakan dengan satuan “bilangan inhibine”, biasanya bilangan inhibine dapat berkisar dari angka 5 sampai 0, yang dites terhadap mikroba Staphylococcus aureus. Bilangan inhibine 5 berarti madu dalam keadaan encer (4% madu dalam agar padat) telah cukup mikroba S. aureus yang terdapat pada plat agar tersebut. Bilangan inhibine 1 artinya madu dalam keadaan lebih pekat (20% madu dalam agar padat) baru dapa memusnahkan atu mencegah pertumbuhan test mikroba S. aureus. Jadi semakin tinggi bilangan inhibine semakin kuat daya antibiotiknya. Jumlah bilangan inhibine dalam madu sangat tergantung jenis, umur dan kondisi madu tersebut. Inhibine ternyata sangat sensitif terhadap panas pada suhu 60%, keaktifan inhibine dalam madu hilang hanya dalam waktu 15 menit.  
Makanya logis jika ada banyak orang yang menggunakan strategi merendam daging pada madu untuk menguji kualitas/keaslian madu. Madu asli dapat memberikan pengaruh pada keawetan dagin sedangkan madu tidak asli tidak dapat mencegah proses pembusukan yang terjadi pada daging.

sumber: http://tekpan.unimus.ac.id/

0 komentar:

Posting Komentar